Kata Pengantar
Puja dan puji syukur saya haturkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan banyak nikmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Teori Belajar Jerome S. Bruner” dengan baik tanpa ada halangan yang berarti.
Makalah ini telah saya selesaikan dengan maksimal berkat kerjasama dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami sampaikan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah berkontribusi secara maksimal dalam penyelesaian makalah ini.
Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat maupun isi. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati , kami selaku penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga makalah ini dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 13 Mei 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Penulisan
BAB II PEMABAHASAN
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Saran
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Fisika merupakan salah satu disiplin akademik yang paling tua, yang menjadi dari ilmu Alam bersama dengan kimia, biologi dan dengan menggunakan sebuh Bahasa yaitu dari matematika. Banyak sekali ilmu ilmu Alam didunia ini hingga terdapat banyak sekali peneliti, penelitian dari ilmuan fisika terkadang menghasilkan ilmu ilmu baru yang menjelaskan dasar dasar dari ilmu lain, seperti biofisika kimia kuantum dan lainnya. Dari fisika inilah terdapat sebuah ilmu yang mampu dipahami oleh manusia dari semua fenomena fenomena alam yang terjadi di bumi bahkan di angkasa sekalipun, bahkan ilmu fisika juga berperan dalan lesatnya krmajuan dijaman modern ini, seperti kehadiran televise, komputer HP dan lain sebagainya.
Karna begitu banyaknya dari manfaat ilmu fisika ini pastilah perlu pengajaran yang mendasar mendasar yang disampaikan sejak sekolah dasar hinga yang rumit sekali di bangku perkuliahan dengan berfikir logis, kritis, analitis, sistematis, kreatif termasuk juga kerjasama. Dalam fisika banyak sekali kajian kajian yang harus memaksa peserta didik untuk membayangkan mempraktekkan hingga tercapai pemahaman yang terkadang terdapat banyak sekali persamaan dan rumus rumus dari sebuah teori yang menggunakan symbol symbol yang membutuhkan penalaran dari sebuah imajinasi yang disampaikan oleh pendidik. Dan dari pendidik haruslah mampu memahamkan seorang peserta didik dalam mempelajari ilmu fisika yang terkadang banyak orang yang mengatakan rumit dari sebuah teori hingga menanamkan pengetahuan dari konsep teori tersebut.
Salah satu cara untuk memahamkan hingga menanamkan konsep dari teori dalam fisika adalah dengan mengetahui berbagai teori belajar mengajar. Karena dari proses pengajaran yang baik dan pas yang dilakukan oleh pengajar pastinya akan tertanam dalam pikiran seorang peserta didik hingga tua kelak bahkan sampai ada yang mengajarkannya kembali pada generasi berikutnya. Namun dari proses yang salah juga bisa mengakibatkan kegagalan pemahaman dari peserta didik hingga mungkin berakibat fatal jika sampai sampai besok ketika mengajarkan kembali salah memberikan konsep yang sebenarnya.
Dalam makalah inipenulis menjelaskan mengenai teori belajar dari salah satu ahli yaitu Teori Belajar Jeromi S. Brunner. Kemudian disampaikan bagaimana penerapannya dalam proses mengajar ilmu fisika, hingga penilaian seorang dari kata kalua fisika itu sulit dan rumit akan hilang dari pikiran mereka.
RUMUSAN MASALAH
Siapakah Jerome S. Bruner?
Apa saja ciri-ciri belajar menurut Jeromme S. Brunner?
Bagaimana cara menerapkan bengajar penemuan menurut Bruner?
Apa saja prinsip teori belajar menurut Jerome S. Bruner?
TUJUAN
Mengetahui siapa Jerome S. Bruner
Mengetahui ciri-ciri belajar menurut Jeromme S. Brunner
Menerapkan mengajar penemuan menurut Bruner
Memahami prinsip teori belajar menurut Jerome S. Bruner
Biografi Jerome S Brunner
Jeromme Seymor Bruner lahir pada 1 Oktober 1915 ia adalah salah satu yang terkenal dan berpengaruh psikolog terbaik abad ke duapuluh. Dia adalah salah satu tokoh kunci dalam yang disebut revolusi kognitifisme, eksistensinya bidang pendidikan yang telah memiliki pengaruh besar dalam proses pembelajaran. Buku-bukunya Proses Pendidikan dan Menuju Teori Instruksi telah banyak dibaca dan menjadi diakui sebagai klasik, dan karyanya pada program studi sosial Mn A Course of Study (MacOS) Pada pertengahan 1960-an adalah salah satu bangunan di pengembangan kurikulum. Lebih baru Brunner telah datang untuk bersikap kritis, terhadap “revolusi kognitif” dan telah melihat ke gedung sebuah psikologi memperhitungkan budaya yang tepat dari konteks historis dan sosial peserta Jerome S. Brunner (1966) adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Yng mengakui belajar adalah untuk mempertahankan dan mentransformasikan informasi secara aktif. Sebagai tokoh kognitivisme belajar bukanlah hanya pembentukan tingkah laku yang diperoleh karena pengulangan hubungan S-R dan adanya reward dan reinforcement tetapi merupakan fungsi pengalaman-pengalaman perceptual dan proses kognitif yang mencakup ingatan, retensi, lupa, pengolahan informasi dan sebagainya.
Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan psikologi belajar kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia, motivasi, belajar, dan berpikir. Dalam mempelajari manusia, ia menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir dan pencipta informasi.
Buku Bruner tentang The Process of Education yang di terbitkan pada tahun 1960 merupakan rangkuman hasil konferensi Woods Hole yang diadakan pada tahun 1959, sewaktu konferensi yang membawa banyak pengaruh pada pendidikan pada umumnya dan pengajaran sains pada khususnya.
Bruner rupanya tidak mengembangkan suatu teori belajar yang sistematis. Hal yang penting baginya ialah cara bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan menstranformasi informasi secara aktif dan inilah menurut Bruner inti belajar. Oleh karena itu Bruner memusatkan perhatiannya pada masalah apa yang dilakukan manusia dengan informasi yang diterimanya dan apa yang dilakukannya sesudah memperoleh informasi yang diskret itu mencapai pemahaman yang memberikan kemampuan padanya.
Ciri-Ciri Belajar menurut Jeromme S. Brunner
Empat tema tentang pendidikan
Dalam bukunya Bruner mengemukakan empat tema pendidikan. Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Kurikulum hendaknya mementingkan struktur pengetahuan. Hal ini perlu, sebab dengan struktur pengetahuan, kita menolong para siswa utuk melihat bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak memiliki hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain, dan pada informasi yang telah mereka miliki.
Tema kedua ialah tentang kesiapan belajar. Menurut Bruner, kesiapan terdiri atas penguasaan, keterampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai keterampilan yang lebih tinggi. Kesiapan untuk geometri Euclidian misalnya, dapat diperoleh dengan memberikan kesempatan pada para siswa untuk membangun konstruksi-konstruksi yang makin kompleks dengan menggunakan poligon-poligon.
Tema yang ketiga menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. Dengan intuisi yang dimaksutkan oleh Bruner adalah teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi tentative tanpa melalui langkah langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi itu merupakan kesimpulan yang sahih atau tidak. Hal yang dikemukakan oleh Bruner ini ialah semacam Educatedguess yang kerap kali digunakan oleh para ilmuwan, artis, dan orang-orang kreatif lainnya.
Tema keempat dan terakhir ialah tentang motivasi atau keinginan untuk belajar dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu. Pengalaman-pengalaman pendidikan Yang merangsang motivasi ialah pengalaman dimana para siswa berpartisipasi secara aktif dalam menghadapi alamnya. Menuru Brunner, pengalaman belajar semacam ini dapat di contohkan oleh pengalaman belajar penemuan yang intuitif dan implikasi.
Model dan Kategori
Pendekatan Brunner terhadap belajar didasarkan pada 2 asumsi. Asumsi pertama ialah perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Berlawanan dengan para penganut teori perilaku, Brunner yakin bahwa orang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif; perubahan hanya terjadi pda lingkungan ,tetapi juga dalam orang itu sendiri. Asumsi kedua ialah orang mengonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya suatu model alam menurut dia. Model Brunner ini sangat mendekati struktur kognitif Ausumbel. Setiap model seseorang khas bagi dirinya. Dengan menghadapi berbagai aspek pada lingkungan kita, kia akan membentuk suatu struktur atau model yang mengizinkan kita untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan di anatara hal-hal yang telah kita ketahui. Dengan model ini kita dapat menyusun hipotesis untuk memasukkan pengetahuan baru kedalam struktur-struktur kita dengan memperluas struktur-struktur itu atau dengan mengembangkan struktur atau struktur baru dan mengembangkan harapan-harapan tentang apa yang terjadi.
Belajar sebagai Proses Kognitif
Brunner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu ialah : (1) memperoleh informasi baru; (2) transformasi informasi; (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
Informasi baru dapat merupakan penghalusan informasi sebelumnya yang dimiliki seorang atau informasi itu dapat bersifat demikian rupa, hingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang. Dalam transformasi pengetahuan seseorang memperlakukan pengetahuan agar cocok atau serasi dengan tugas baru. Jadi, transformasi menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara eksplorasi atau dengan mengubah menjadi bentuk lain. Kita menguji relevansi dan ketepaan pengeahuan dengan menilai apakah cara kita memperlakukan pengetahuan itu cocok dengan tugas yang ada.
Bruner menyebut pandangannya tentang belajar atau pertumbuhan kognitif sebagai konseptualisme instrumental. Pandangan ini berpusat pada dua prinsip yaitu: (1) pengetahuan tentang alam didasarkan pada model-model tentang kenyataan yang di bangunnya; dan (2) model-model semacam itu mula-mula diadopsi dari kebudayaan seseorang, kemudian model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang bersangkutan.
Persepsi seseorang tentang suatu peristiwa merupakan suatu proses konstruktif. Dalam proses ini orang itu menyusun suatu hipotesis dengan menghubungkan data indranya pada model yang telah disusunnya tentang alam, lalu menguji hipotesisnya terhadap sifat-sifat tambahan dari peristiwa itu. Jadi, seorang pengamat itu tidak dipandang sebagai organisme reaktif yang pasif, tetapi sebagai seseorang yang memilih informasi secara aktif dan membentuk hipotesis perseptual.
Menurut Bruner, pendewasaan pertumbuhan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang adalah sebagai berikut:
Pertumbuahan intelektual di tunjukkan oleh bertambahnya ketidak tergantungan respons dari sifat stimulus. Dalam pertumbuhan intelektual ini ada kalanya kita lihat bahwa seorang anak mempertahankan suatu respons dalam lingkaran stimulus yang berubah-ubah. Atau belajar mengubah responsnya dalam lingkungan stimulus yang tidak berubah. Jadi, melalui pertumbuhan seorang memperoleh kebebasan dari pengontrolan stimulus melalui proses-proses perantara yang mengubah stimulus sebelum respons.
Pertumbuhan intelektual bergantung pada bagaimana seorang menginternalisasi peristiwa-peristiwa menjadi suatu system simpanan yang sesuai dengan lingkungan. System inilah yang memungkinkan peningkatan kemampuan anak untuk bertindak diatas informasi yang diperoleh pada suatu kesempatan. Ia melakukan ini dengan membuat ramalan-ramalan dan ekstrapolasi dari model alam yang disimpannya.
Pertumbuhan intelektual menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk berkata pada dirinya sendiri atau pada orang-orang lain dengan pertolongan kata-kata dan simbo-simbol yang mengenai apa yang telah dilakukannya atau yang akan dilakukannya. Kesadaran diri ini mengizinkan suatu transisi dari perilaku keteraturan keperilaku logika. Ini merupakan suatu proses yang membawa manusia melampaui adaptasi empiris.
Hampir semua orang dewasa melalui penggunaan tiga system keterampilan untuk menyatakan kemampuan-kemampuannya secara sempurna. Ketiga system keterampilan itu adalah yang disebut tiga cara penyajian oleh Brunner, ketiga cara itu ialah : enaktif, ikonik dan simbolis.
Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan, jadi bersifat manupulatif. Dengan cara ini seseorang mengetahui suatu aspek kenyataan tanpa menggunakan pikiran dan kata-kata. Jadi, cara ini terdiri atas penyajian kejadian-kejadian masa lampau melalui respons-respons motorik. Dengan cara ini dilakukan satu set kegiatan mencapai hasil tertentu. Misalnya seorang anak secara enaktif mengeahui bagaimana mengendarai sepeda ontel.
Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan semuamkonsep itu. Misalnya sebuah segitiga menyatakan konsep kesegitigaan. Penyajian ikonik terutama dikendalikan prinsip-prinsip oragnisasi persepual dan transformasi secara ekonomis dalam organisasi perseptual. Rupa-rupanya penyajian enaktif didasarkan pada belajar tentang respons bentuk-bentuk kebiasaan. Penyajian ikonik tertinggi pada umumnya dijumpai pada anak-anak berumur antara 5 dan 7 tahun, yaitu periode waktu anak sanga bergantung pada penginderaannya sendiri dengan mendekati masa remaja, bagi seseorang, Bahasa menjadi makin penting sebagai suatu media berpikir. Maka, orang mencapai suatu trnsisi dari penggunaan penyajian ikonik yang didasarkan pada penginderaan ke penggunaan penyajian simbolis yang didasarkan pada system berpikir abstrak, arbitrer, dan lebih fleksibel. Penyajian simbolis menggunakan kata-kata atau Bahasa. Penyajian simbolis dibuktikan oleh kemampuan seseorang yang lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan daripada objek memperikan struktur hierarkis pada konsep-konsep, dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan alternative dalam sutu cara yang bersifat kombinasi. Sebagai ilustrasi dari ketiga cara penyajian ini, Brunner memberikan suatu contoh tentang pelajaran penggunaan timbangan.
Anak kecil hanya dapat bertindak berdasarkan prinsip-prinsip timbangan dan menunjukan hal itu dengan dapat menaiki papan jungkat-jungkit. Ia tahu bahwa untuk dapat lebih jauh ke bawah, ia harus duduk menjauhi pusat. Anak yang lebih tua dapat menyajikan timbangan pada dirinya sendiri dengan suau modal atau dengan suatu gambaran.”Bayangan “ timbangan itu dapat diperinci seperti yang didapat pada pelajaran. Akhirnya suatu timbangan dapat djelaskan dengan menggunakan Bahasa, tanpa pertolongan gambar atau dapat pula dijelaska secara matematis dengan menggunakan Hukum Newton tentang momen.
Belajar Penemuan
Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh adalah model dari Jerome Bruner yang dikenal dengan nama belajar penemuan. Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuansecara aktif oleh manusia dan dengan sendiriya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengeahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Belajar bermakna dengan arti seperti di berikan diatas merupakan satu-satunya macam belajar yang mendapat perhatian Bruner.
Bruner menyarankan agar siswa-siswa hendaknya belajar melalui partisipasi secara aktif dengan konsep dan prinsip-prinsip agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri.
Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan. Pertama, pengetahuan itu bertahan lama atau lama diingat atau lebih mudah diingat bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara-cara lain. Kedua, hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik daripada hasil belajar lainnya. Dengan kata lain, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dijadikan milik kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi-situasi baru. Ketiga, secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Selanjutnya dikemukakan bahwa belajar penemuan membangkitkan keingintahuan siswa, memberi motivasi untuk bekerja terus sampai menemukan jawaban-jawaban. Lagi pula pendekatan ini dapat mengajarkan keterampilan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain dan meminta para siswa untuk menganalisis dan memanipulasi informasi, tidak hanya menerima saja.
Bruner menyadari bahwa belajar penemuan yang murni memerlukan waktu. Ia menyarankan agar penggunaan belajar penemuan ini hanya diterapkan sampai batas-batas tertentu, yaitu dengan mengarahkannya pada struktur bidang studi.
Struktur suatu bidang studi terutama diberikan oleh konsep-konsep dasar dan prinsip-prinsip bidang studi itu. Bila seorang siswa telah menguasai struktur dasar, tidak akan terlalu sulit baginya untuk mempeajari bahan-bahan pelajaran lain dalam bidang studi yang sama dan ia akan lebih mudah ingat bahan baru itu. Hal ini disebabkan karena ia telah memperoleh kerangka pengetahuan yang bermakna yang dapat digunakannya untuk melihat hubungan-hubungan yang esensial dalam bidang studi itu sehingga dapat memahami bidang-bidang yang mendetail.
Menurut Bruner, mengerti struktur suatu bidang ialah memahami bidang studi itu demikian rupa, hingga dapat menghubungkan hal-hal lain pada struktur itu secara bermakna. Secara singkat dapat dikatakan bahwa mempelajari struktur adalah mempelajari bagaimana hal-hal dihubungkan.
Teori Instruksi Bruner
Dalam bagian terdahulu telah kita mengetahi beberapa prinsip belajar menurut Bruner. Dalam bagian ini kita akan membahas bagaimana pengajaran atau instruksi dilaksanakan sesuai dengan teori yang telah dikemukakan tentang belajar. Menurut Bruner, sesuai teori instruksi hendaknya meliputi:
Pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar.
Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal.
Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajaran secara optimal.
Bentuk dan pemberian reinforcement.
Pengalaman Optimal bagi Siswa untuk Mau dan dapat Belajar.
Menurut Bruner, belajar dan pemecahan masalah bergantung pada penyelidikan alternative. Oleh karena itu, pengajaran atau instruksi harus memperlancar dan mengatur penyelidikan alternative ditinjau dari segi siswa.
Penyelidikan alternative membutuhkan aktivasi, pemeliharaan dan pengarahan. Dengan kata lain, penyelidikan allternatif membutuhkan sesuatu untuk dapat mulai, sesudah di mulai keadaan itu harus dipelihara atau dipertahankan, kemudian dijaga agar tidak kehilangan arah.
Kondisi untuk aktivasi ialah adanya suatu tingkat ketidaktentuan yang optiml. Keingintahu merupakan suatu respon terhadap ketidaktentuan dan kesangsian. Suatu tugas yang begitu terperinci menghendaki sedikit penyelidikan, tugas yang begitu tidak jelas dapat menimbulkan kebingungan dan kecemasan dengan akibat mengurangi penyelidikan.
Setelah penyelidikan teraktifkan, situasi itu dipelihara dengan membuat resiko seminim mungkin dalam penyelidikan itu. Belajar dengan pertolongan guru seharusnya kurang mengambil resiko dibandingkan dengan belajar sendiri. Ini berarti bahwa akibat membuat kesalahan, menyelidiki alternatif-alternatif yang salah, hendaknya tidak banyak terjadi dibawah bimbingan guru dan hasil dari penyelidikan alternatif yang benar dengan sendirinya besar.
Arah penyelidikan bergantung pada dua hal yang saling berkaitan, yaitu tujuan tugas yang diberikan sampai batas-batas tertentu harus diketahui dan sampai berapa jauh tujuan telah tercapai pun harus diketahui.
Penstrukturan Pengetahuan untuk Pemahaman Optimal.
Struktur suatu domain pengetahuan mempunyai tiga ciri dan setiap ciri itu mempengaruhi kemampuan siswa untuk menguasainya. Ketiga ciri itu ialah cara penyajian, ekonomi, dan kuasa. Cara penyajian, ekonomi, dan kuasa berbeda bila dihubungkan dengan usia, “gaya” para siswa, dan macam bidang studi.
Kita sudah mengetahui bahwa ada tiga cara penyajian, yaitu cara enaktif, ikonik, dan simbolis serta contoh-contoh untuk setiap cara penyajian itu telah diberikan pula. Banyak bidang studi yang mempunyai berbagai alternative cara penyajian.
Ekonomi dalam penyajianpengetahuan dihubungkan dengan sejumlah informasi yang dapat disimpan dala pikiran dan proses untuk mencapai pemahaman. Makin banyak jumlah informasi yang harus dipelajari siswa untuk memahami sesuatu atau untuk menangani suatu masalah, makin banyak langkah yang harus ditempuh dalam memproses informasi untuk mencapai suatu kesimpulan dan makin kurang ekonomis.
Lebih ekonomis untuk merangkum hubungan antara volume dan tekanan gas dengan rumus PV = C misalnya, daripada menyajikan dalam bentuk table tentang hasil-hasil pengamatan mengenai hubungan volume dan tekanan berbagai macam gas.
Ekonomi berubah dengan cara penyajian. Ekonomi makin meningkat dengan menggunakan diagram atau gambar. Dapat kita bandingkan suatu flow chart dengan uraian mengenai cara menghasilkan gula dari tebu misalnya yang manakah yang lebih ekonomis?
Kuasa suatu penyajian dapat juga diterangkan sebagai kemampuan penyajian itu untuk menhubung-hubungkan hal-hal yang kelihatannya sangat terpisah-pisah.
Perincian Urutan-Urutan Penyajian Materi Pelajaran secara Optimal
Dalam mengajar, siswa dibimbing melalui urutan pernyataan suatu masalah atau sekumpulan pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menerima, mengubah, dan mentransfer apa yang telah dipelajarinya. Jadi, urutan materi pelajaran dalam suatu domain pengetahuan mempengaruhi kesulitan yang dihadapi siswa dalam mencapai penguasaan.
Biasanya ada berbagai urutan yang setara dalam kemudahan dan kesulitan bagi para siswa. Tidak ada satu urutan khas bagi semua siswa dan urutan yang optimal bergantung pada berbagai factor, misalnya belajar sebelumnya, tingkat perkembangan anak, sifat materi pelajaran, dan perbedaan individu.
Dikemukakan oleh Bruner bahwa perkembangan intelektual bergerak dari penyajian enaktif melalui penyajian ekonik ke penyajian simbolis. Oleh karena itu, urutan optimum materi pelajaran juga mengikuti arah yang sama.
Bentuk dan Pemberian Reinforcement.
Dalam teorinya Bruner mengemukakan bahwa bentuk hadiah atau pujian dan hukuman harus dipikirkan. Demikian pula bila pujian atau hukuman itu diberikan selama proses belajar mengajar. Secara intuitif, jelas bahwa selama proses belajar mengajar berlangsung ada suatu ketika ekstrinsik bergeser ke hadiah instrinsik. Sebagai hadiah ekstrinsik misalnya, berupa pujian dari guru, sedangkan hadiah instrinsik timbul karena berhasil memecahkan masalah. Demikian pula ada kalanya hadiah yang diberikan secara langsung, harus diganti dengan hadiah yang pemberiannya harus ditunda atau ditangguhkan. Ketepatan waktu pergeseran dari hadiah ekstrinsik ke hadiah intrinsic, dan hadiah intrinsic ke hadiah ekstrinsik, dan dari hadiah langsung ke hadiah yang ditangguhkan, sedikit sekali diketahui, sehingga diketahui, sehingga dengan sendirinya penting untuk diperhatikan.
Akhirnya patut ditekankan bahwa tujuan mengajar ialah untuk menjadikan siswa merasa puas. Umpan balik berupa perbaikan-perbaikan apapun juga membawa bahaya bagi siswa karena siswa bersangkutan menjadi tetap bergantung pada guru atau tutor. Tutor seharusnya memperbaiki siswa demikian rupa, hingga akhirnya siswa itu dimungkinkan untuk menggantikan fungsi tutor.
Menerapkan Mengajar Penemuan
Salah satu model instruksional kognitif yang paling berpengaruh ialah model belajar penemuan Jerome Brunner (1996). Dalam bagian ini akan diketahui bagaimana menerapkan belajar penemuan pada siswa ditinjau dari segi metode tujuan, serta peranan guru.
Metode danTujuan
Dalam belajar penemuan metode dan tujuan ntidak sepenuhnya seiring. Tujuan belajar bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan saja. Tujuan belajar sebenarnya ialah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat melatih kemampuan intelektual para siswa serta merangsang keingintahuan mereka dan memotivasi kemampuan mereka. Inilah yang dimaksud dengan memperoleh pengetahuan melalui belajar penemuan.
Jadi kalau kita mengajarkan sains misalnya, kita bukan akan menghasilkan perpustakaan-perpustakaan hidup kecil tentang sains , melainkan kita ingin membuat anak-anak kita berpikir secara matematis bagi dirinya sendiri, berperan serta dalam proses perolehan pengetahuan.Mengetahui itu adalah suatu proses bukan suatu produk.
Apakah implikasi ungkapan Brunner itu ? Tujuan mengajar hanya dapat diuraikan secara garis besar dan dapat dicapai dengan cara yang tidak perlu sama oleh para siswa yang mengikuti pelajaran itu.
Dengan mengajar seperti yang dimaksud oleh Brunner ini, bagaimana peranan guru dalam proses belajar mengajar? Dalam belajar penemuan, siswa mwndapat kebebasan sampai batas-batas tertentu untuk menyelidiki secara perorangan atau dalam suatu tanya jawab dengan guru atau oleh guru dan/atau siswa-siawa lain untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru atau oleh dan siswa bersama-sama. Dengan demikian jelas bahwa peraturan guru sangat berbeda bila dibandingkan dengan peranan guru yang mengajar secara kuno dengan metode ceramah. Dalam belajar penemuan ini guru tidak begitu mengendalikan proses belajar mengajar.
Peranan Guru
Dalam belajar penemuan peranan guru antara lain sebagai berikut:
Guru merencanakan pelajaran demikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki oleh para siswa.
Guru mempelajari materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah. Sudah seharusnya materi pelajaran itu dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan, misalnya dengan menggunakan fakta-fakta yang berlawanan. Guru hendaknya mulai dengan sesuatu yang sudah dikenal oleh siswa-siswa. Kemudian, guru mengemukakan sesuatu yang berlawanan. Dengan demikian, terjadi konflik dengan pengalaman siswa. Akibatnya timbulah masalah.
Selain hal-hal yang tersebut diatas guru juga harus memperhatikan tiga cara penyajian yang dibahas terlebih dahulu. Cara-cara penyajian itu adalah enaktif, ikonik dan simbolis. Contoh cara-cara penyajian ini telah diberikan dalam uraian terdahulu. Untuk menjamin keberhasilan belajar guru hendaknya jangan menggunakan cara penyajian yang tidak sesuai dengan tingkat kognitif siswa. Disarankan agar guru mengikuti aturan penyajian enaktif, ikonik dan simbolis. Perkembangan intelektual diasumsikan mengikuti urutan enaktif, ikonik dan simbolis, demikian pula harapan tentang urutan penyajian.
Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teuretis, guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru hendanknya jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan yang akan dipelajari tetapi ia hendaknya memberikan saran-saran bilaman diperlukan. Sebagai seorang tutor guru sebaiknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat. Umpan balik sebagai perbaikan hendaknya diberikan dengan cara demikian rupa, hingga siswa tidak tetap bergantung pada pertolongan guru. Akhirnya siswa harus melakukan sendiri fungsi tutor itu.
Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan. Seperti kita ketahui, tujuan tidak dapat dirumuskan secara mendetail dan tujuan itu tidak diminta sama untuk berbagai siswa. Lagi pula tujuan dan proses tidak selalu seiring. Secara garis besar, tujuan belajar penemuan telah mempelajari generalisasi-generalisasi dengan menemukan sendiri generalisasi-generaliosasi itu.
Di lapangan penilain hasil belajar penemuan meliputi pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar mengenai suatu bidang studi dfan kemampuan siswa untuk menerapkan prinsip-prinsip itu pada situasi baru. Untuk maksud ini bentuk tes dapat berupa tes obyektif atau tes essai.
Prinsip Teori Belajar Menurut Jerome S. Bruner
Pengetahuan itu akan bertahan lebih lama atau lama dapat diingat, mudah dapat diingat, bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara-cara yang lain
Sebagian itu belajar penemuan memiliki hasil belajar yang mempunyai efek transfer yang lebih baik dari hasil belajar lainnya. Artinya konsep-konsep yang ditemukan menjadi milik kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi baru atau pada saat dibutuhkan.
Disisi lainnya secara menyeluruh beajar penemuan dapat meningkatkan penalaran belajar suatu topik, meningkatkan kemampuan untuk berpikir secara bebas dan sistematis. Khususnya lagi belajar penemuan mampu melatih keterampilan kognitif pelajar. Untuk menentukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Pendapat lain juga dikemukakan bahwa belajar penemuan akan memberikan keleluasaan siswa dalam memecahkan masalah dibidangnya. Membiarkan siswa memecahkan masalah dan menentukan makna memungkinkan mereka belajar konsep dengan Bahasa yang diketahui dan melalui modus representasi yang dimiliki. Keuntungan belajar penemuan menurut Jerome Bruner adalah: ada nilai tambah dalam potens intelektual, tekanan terletak pada hadiah instrinsik, siswa belajar menemukan sesuatu, memungkinkan siswa mengingat informasi.
Bruner menyadari bahwa belajar penemuan yang murni memerlukan waktu. Karena itu, dalam bukunya the relevance of education ia menyarankan agar penggunaan belajar penemuan ini hanya diterapkan sampai batas-batas tertentu, yaitu dengan mengarahkan pada struktur bidang studi.
Struktur suatu bidang studi terutama diberikan oleh konsep-konsep dasar dan prinsip-prinsip dari bidang studi. Bila seorang siswa telah menguasai struktur atas dasar maka tidak sulit baginya untuk mempelajari bahan-bahan pelajaran lain dalam bidang studi yang sama, dan ia akan lebih mudah ingat akan bahan baru itu, hal ini disebabkan karena ia telah memperoleh kerangka pengetahuan yang esensial dalam bidang studi ini dan dengan demikian dapat memahami hal-hal yang mendetail. Ini menunjukkan bahwa selain teori ini memiliki sisi keunggulan tersendiri, ia juga memiliki kekurangan dan analisis penulis dari paparan diatas sebagai berikut:
Dari sekian bidang studi yang ada, tidak semua bidang studi atau sub judul bidang studi dapat dilakukan dengan teori belajar penemuan
Tidak semua peserta didik mampu diajak kerja sama melakukan proses berpikir sebagaimana yang diharapkan
Sulitnya teori ini diterapkan pada budaya masyarakat yang berlainan antara satu daerah dengan daerah yang lain
Teori ini relative sulit karena akan memakan waktu yang relative lama, dikarenakan siswa kurang terbiasa untuk melakukan proses berpikir individu juga kelompok.
Implikasi Teori Belajar Discovery dalam Proses Pembelajaran
Teori belajar discovery yang dihasilkan oleh Bruner dapat memberikan masukan yang sangat besar bagi perkembangan ranah kognitif siswa. Ranah kognitif siswa memiliki ketergantungan terhadap informasi yang diperoleh melalui proses yang dijalaninya, semakin banyak informasi yang diserap lalu mampu diananlisa dengan baik, maka semakin besar pula ranah kognitif yang ditemukan, sebaliknya semakin kecil ruang lingkup informasi yang ditemukan maka sungguh semakin kecil kemungkinan ranah kognitif ini berproses pada diri seseorang (peserta didik). Secara garis besar proses pengembangan ranah kognitif seseorang dapat diperoleh melalui banyak strategi baik secara driil, pemecahan masalah, penugasan sampai strategi inkuiri. Walau strategi inkuiri dikatakan berbeda pada inti tujuannya namun menurut penulis strategi inkuiri adalah salah satu cara untuk memperkaya dan memenuhi perkembangan kognitif seseorang.
Zaman yang semakin canggih dewasa ini memberikan peluang yang lua untuk pengembangan ranah kognitof tersebut, selain alat eknologi yng telah mendunia dari wilayah ibu kota masyarakat menengah hingga masyarakat pesisir telah dapat diakses kapanpun mereka inginkan. Tinggal lagi kemampuan motivasi serta pemberdayaan alat tersebut mampu atau tidak digunakan sesuai dengan tujuan dan manfaat dari yang sesungguhnya. Bagai teori Brunner misalkan, jika siswa ingin lebih terbuka untuk mencri melalui dunia maya sah-sah saja, atau melalui bertanya kepada siapa yang lebih tahu, dan dapat pul dicari melalui buku-buku klasik (pustaka) untuk memperkaya pengetahuannya dahulu hingga perkembangan dunia sekarang. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Brunner tentang pembelajaran sains misalkan, kita bukan akan menghasilkan perpustakaan-perpustakaan hidup kecil tentang sains melainkan kita ingin membuat anak-anak kita berpikir secara matematika bagi dirinya sendiri, berperan serta dalam proses perolehan pengetahuan. Pengetahuan itu dalah proses bukan suatu produk yang lahir begitu saaja dari diri seseorang.
Ungkapan diatas bertujuan untuk menjelaskan tujuan-tujuan mengajar hanya dapat diurakan secara garis besar dan dapat dicapai dengan cara-cara yang tidak perlu sama oleh para siswa yang mengikuti pelajaran yang sama. Terlihat jelas dari proses belajar discovery Brunner memberikan kebebasan sampai batas-batas tertentu untuk menyelidiki secara perorangan atau kelompok dalam satu Tanya jawab dengan guru atau oleh guru atau oleh siswa-siswa lain untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Dengan demikian proses belajar discovery jelas bahwa peranan guru lain sekali bila dibandingkan dengan peranan guru yang mengajar secara klasikal dengan metode ceramah. Dalam proses belajar ini guru tidak begitu mengendalikan proses belajar mengajar. Hal ini dapat terlihat dari peranan seorng guru dalam belajar discovery berikut:
Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu berpusat pada masalah masalah yang tepat untuk diketahui siswa, baik secara kelompok atau secara individu.
Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah berupa :
Menggunakan kata –kata yang berlawanan
Menggunakan hal yang sudah dikenali siswa
Siswa akan merasa sangsi dengan jawab sehingga lahirlah hipotesis siswa
Menemukan konsep atau teori dari masalah sesungguhnya
Memperhatikan tiga hal berupa cra enaktik (bersifat manupulatif) ikonik (bersifat latar belakang kemampuan internal siswa) dan cara simbolik (berdasarkan media berpikir)
Jika dilakukan di laboratorium maka guru adalah sebagai pembimbing (tutor) atau fasilitator siswa.
Menilai hsil belajar setelah adanya proses penarikan kesimpulan dari guru secara keseluruan. Memberikan motivasi pda siswa untuk mencari dan berpikir terhadap materi-materi yang dipandang belum diketahui. Memberi penghargan yang berhasil dan memotivasi bagi yang kurang beruntung.
Aplikasi Teori Bruner Dalam Pembelajaran Fisika di Sekolah Dasar
Penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan:
Sajikan contoh dan bukan contoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan. Misal : untuk memahamkan siswa terhadap konsep hambatan, langkah pertama adalah menjelaskan hambatan dalam kehidupan salah keseharian, yaitu sesuatu yang meghalangi sebuah usaha dari sesuatu.
Bantu si belajar untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep. Misalnya berikan pertanyaan kepada sibelajar seperti berikut ini yang menghambat sebuah hubungan misal adalah jarak antara kedua hal.
Berikan satu pertanyaan dan biarkan biarkan siswa untuk mencari jawabannya sendiri. Misalnya Jelaskan semua hal mengenai sebuah hambatan.
Ajak dan beri semangat si belajar untuk memberikan pendapat berdasarkan intuisinya. Jangan dikomentari dahulu atas jawaban siswa, kemudian gunakan pertanyaan yang dapat memandu si belajar untuk berpikir dan mencari jawaban yang sebenarnya.
Berikut ini disajikan contoh penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran fisika di sekolah.
1. Pembelajaran menemukan rumus hambatan
Untuk tahap contoh berikan macam macam jenis bahan penghantar dengan nilai hambatan ada yang sama dan ada yang berbeda, dari bahan penghantar yang sama berikan bermacam macam variasi luas penampang panjang bahan penghantar tersebut.
a. Tahap Enaktif.
Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlihat dalam memanipulasi (mengotak atik)objek dengan mengukur nilai hambatan pada penghantar tersebut
a Panjang = 20 cm , luas penampang = 10cm³
b Panjang = 20 cm , luas penampang = 20cm³
c Panjang = 10 cm, luas penampang = 20cm³
b. Tahap Ikonik
Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya.
Penyajian pada tahap ini apat dilakukan dengan menggunakan grafik hubungan antara luas penampang dengan besar hambatan dan panjang penghantar dengan besar hambatan
c. Tahap Simbolis
Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi Simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu.
Siswa diminta untuk mngeneralisasikan untuk menenukan rumus beast hambatan dari hubungan hubungan antara luas penampang dan panjang penghantar dengan besar hambatan yang dihasilkan
Dari hasil analysis tersebut seharusnya dihasilkan sebuah rumus yaitu R = p l/A
Jadi besar hambatan sebanding dengan panjang penghantar dan berbanding terbalik dengan luas penampang nya.
Penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan:
Sajikan contoh dan bukan contoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan.
Bantu si belajar untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep.
Berikan satu pertanyaan dan biarkan biarkan siswa untuk mencari jawabannya sendiri.
Ajak dan beri semangat si belajar untuk memberikan pendapat berdasarkan intuisinya.Jangan dikomentari dahulu atas jawaban siswa, kemudian gunakan pertanyaan yang dapat memandu si belajar untuk berpikir dan mencari jawaban yang sebenarnya.
Tidak semua materi yang ada dalam matematika sekoah dasar dapat dilakukan dengan metode penemuan
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Jeromme Bruner lahir pada 1 Oktober 1915 ia adalah salah satu yang terkenal dan berpengaruh psikolog terbaik abad ke duapuluh. Dia adalah salah satu tokoh kunci dalam yang disebut revolusi kognitifisme, eksistensinya bidang pendidikan yang telah memiliki pengaruh besar dalam proses pembelajaran
Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh adalah model dari Jerome Bruner yang dikenal dengan nama belajar penemuan. Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuansecara aktif oleh manusia dan dengan sendiriya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengeahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Belajar bermakna dengan arti seperti di berikan diatas merupakan satu-satunya macam belajar yang mendapat perhatian Bruner.
Ciri-Ciri Belajar menurut Jeromme S. Brunner ada 4 yaitu ciri belajar pertama empat tema tentang pendidikan yang isinya tema pertama adalah mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan, tema kedua ialah tentang kesiapan belajar, tema yang ketiga menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan, tema keempat dan terakhir ialah tentang motivasi atau keinginan untuk belajar dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu. Kemudian ciri belajar kedua tentang model dan kategori yaitu pendekatan Brunner terhadap belajar didasarkan pada 2 asumsi, asumsi pertama ialah perolehan pengetahuan merupakan suatu interaktif Dan asumsi kedua ialah orang mengonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya suatu model alam menurut dia. Sedangkan ciri ketika menurut Brunner adalah belajar sebagai proses kognitif yang menyebut pandangannya tentang belajar atau pertumbuhan kognitif sebagai konseptualisme instrumental. Pandangan ini berpusat pada dua prinsip yaitu: (1) pengetahuan tentang alam didasarkan pada model-model tentang kenyataan yang di bangunnya; dan (2) model-model semacam itu mula-mula diadopsi dari kebudayaan seseorang, kemudian model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang bersangkutan. Dan ciri terahir adalah tentang belajar penemuan, Ia menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuansecara aktif oleh manusia dan dengan sendiriya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengeahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna.
Empat teori instruksi dari Brunner yautu pertama pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar. Kedua penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal. Ketiga perincian urutan-urutan penyajian materi pelajaran secara optimal. Dan terahir bentuk dan pemberian reinforcement.
Salah satu model instruksional kognitif yang paling berpengaruh ialah model belajar penemuan Jerome Brunner (1996). Dalam bagian ini akan diketahui bagaimana menerapkan belajar penemuan pada siswa ditinjau dari segi metode tujuan, serta peranan guru.
Dalam belajar penemuan metode dan tujuan ntidak sepenuhnya seiring. Tujuan belajar bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan saja. Tujuan belajar sebenarnya ialah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat melatih kemampuan intelektual para siswa serta merangsang keingintahuan mereka dan memotivasi kemampuan mereka. Inilah yang dimaksud dengan memperoleh pengetahuan melalui belajar penemuan.
Kemudian dalam belajar penemuan peranan guru antara lain sebagai berikut, guru merencanakan pelajaran demikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki oleh para siswa, selain itu guru mempelajari materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah. Sudah seharusnya materi pelajaran itu dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan, misalnya dengan menggunakan fakta-fakta yang berlawanan, guru juga harus memperhatikan tiga cara penyajian yang dibahas terlebih dahulu. Cara-cara penyajian itu adalah enaktif, ikonik dan simbolis. Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teuretis, guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Dan terahir adalah menilai hasil belajar dan di lapangan penilain hasil belajar penemuan meliputi pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar mengenai suatu bidang studi dfan kemampuan siswa untuk menerapkan prinsip-prinsip itu pada situasi baru. Untuk maksud ini bentuk tes dapat berupa tes obyektif atau tes essai.
Daftar Pustaka
Baharuddin H. 2010. Teori belajar dan pembelajaran. Yogyakarta: Ar Ruzz media.
Dahar, Ratna. 2011. Teori-teori belajar dan pembelajaran. Jakarta: Erlangga.
Jamil. 2013. Strategi pembelajaran: teori dan aplikasi. Yogyakarta: Ar Ruzz media.